Sebab-sebab Kemuliaan Kita

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ (١٠)

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?” (Surah Al-Anbiya: 10)

 

Untuk menjadi lebih mulia kita perlu berubah. Baik dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk maupun meningkatkan tradisi-tradisi kebaikan pribadi. Tapi darimana kita bisa mendapatkan semangat perubahan itu? Dan apa yang bisa lakukan saat ini?

Kebingungan atas pertanyaan ini kemudian yang menghentikan langkah kita untuk berubah. Lalu akhirnya tahun-tahun berlalu, dan kita pun masih seperti yang dulu. Tidak ada peningkatan kebaikan sama sekali.

Beragam nasehat kita dengarkan. Banyak buku motivasi kita baca. Kita lupa, di dekat kita ada sebuah buku perubahan terdahsyat sepanjang sejarah umat manusia, yaitu Al-Qur’an. Inilah sebuah yang ajaib dan menakjubkan dan telah terbukti mengubah perjalanan hidup Bilal bin Abi Rabah, Khalid bin Walid, Umar bin Khathab, Amr bin Ash, Qais bin Tsabit, dan ribuan manusia lainnya, dan menyulap mereka dalam sekejap menjadi orang-orang yang hebat, dan generasi mereka menjadi generasi terbaik.

Interaksi kita kepada Al-Qur’an terbatas pada pemikiran bahwa ini kitab suci umat islam, lalu cukup hanya sampai di situ. Maka kita biarkan ia terpajang indah, kita koleksi macam-macam mushaf, lalu cukup sampai di situ. Kadang kita tilawah, Alhamdulillah bisa berkali-kali khatam, tapi lagi-lagi kita hanya mencukupkan sampai di situ. Tidak ada tergerak hati kita untuk meraih kemukjizatannya yang abadi; yaitu sebuah jaminan dari Allah; bahwa siapa yang mengamalkannya maka pasti hidupnya baik dan mulia dunia dan akhirat.

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?” (Surah Al-Anbiya: 10)

Tapi, saya harus mulai darimana? Apa yang harus saya tadabburi? Bagian mana yang bisa saya amalkan? Al-Qur’an itu berbahasa arab, sementara saya tidak paham bahasa arab sama sekali? Saya baca terjemahannya, tapi masih tetap belum bisa menangkap ayat mana yang bisa saya jadikan pedoman?

Sahabat-sahabatku…

Apa yang engkau rasakan, saya pun merasakan seperti itu. Maka baiklah, mari kita bersama melihat petunjuk-petunjuk Al-Qur’an itu, dalam ungkapan-ungkapan kalimatnya yang singkat namun sangat menggugah, menginspirasi, dan pasti akan membawa kita menjadi lebih baik kalau mau kita amalkan. Kita luangkan waktu sejenak untuk memikirkan dan menghayati beberapa instruksi dari kita suci ini, berharap semoga hari-hari kita menjadi lebih baik. Ada baiknya bila ungkapan-ungkapan singkat ini kita hafal, sehingga menjadikan kita ingat selalu tentang instruksi yang mulia ini.

Atas permintaan beberapa sahabat saya di PPTQ Ibnu Abbas, insya Allah saya akan menyajikan sarapan pagi berupa tadabbur beberapa ayat pilihan yang aplikatif dan semoga menjadi pintu bagi kita semua untuk meraih kebaikan-kebaikan selanjutnya. Sungguh kita tidak akan puas untuk mendapatkan kebaikan sampai akhirnya kita benar-benar meraih surga Allah Swt.

 

Menghitung Dosa dosa Kita

BEACH2 

Seorang tabi’in, Sufyan Ats Tsaury suatu kali duduk merenungkan hari-hari yang sudah ia lalui dalam kehidupan.

Ia menghitung jumlah hari-hari itu, sampai ia menemukan 21 ribu hari sudah ia hidup di dunia ini.

Lalu ia mengerang……

Dan ia berkata: “Celaka lah diriku, bagaimana aku akan menemui Allah dengan 21 ribu dosa? Ini bila aku hanya melakukan satu dosa dalam satu hari. Bagaimana kalau dalam sehari aku berbuat dosa 10 kali atau 100 kali? Kemudian ia jatuh pingsan karena sangat takut…

Apakah kita pernah merenungkan seperti yang direnungkan tabi’in ini? Apakah kita minta ampun atas segala dosa kita? Ataukah kita malah mengatakan “apa dosa yang ku perbuat hingga aku harus minta ampun?”

Rasulullah yang terpelihara dari melakukan dosa dan dijamin masuk surga saja minta ampun 100 kali dalam sehari.

***

Dosa itu mempunyai pengaruh buruk dalam hidup kita. Pengaruh buruk itu, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, antara lain dapat menghalangi turunnya rezeki, menjauhkan pelakunya dengan orang baik, menyulitkan urusan, melemahkan hati, memperpendek umur, merusak akal, hilangnya rasa malu, berkurangnya nikmat, dan mendatangkan azab.

Pengaruh maksiat ini akan langsung terlihat begitu seseorang melakukan dosa. Imam Sufyan At-Tsauri menyatakan bahwa beliau pernah terhalang melakukan shalat malam karena dosa yang beliau lakukan.

Dosa akan memberi dampak buruk bagi kehidupan. Ketika suatu hari anak kita rewel, istri di rumah marah-marah, sikap teman-teman kerja tidak menyenangkan, rezeki sempit, sulit memahami pelajaran, semua pintu peluang tertutup, hati susah, pikiran pun runyam, maka berhentilah sejenak. Bisa jadi ini semua terjadi karena dosa yang dilakukan sebelumnya.

Rasulullah menyatakan bahwa pengaruh dosa akan kehidupan seseorang sampai-sampai pada hewan tunggangannya. Hewannya itu akan bereaksi tidak sebagaimana biasa ketika sebelumnya sang pemiliknya berbuat dosa.

Maka pada masalah rezeki yang sempit, hubungan dengan masyarakat yang rumit, roda kerja usaha yang terseok-seok, semata-mata bukan karena persoalan manajerial, koordinasi, dan lain sebagainya. Perlu evaluasi kembali, jangan-jangan ini karena tumpukan dosa-dosa yang membuat hati kelam dan tertutup melihat peluang dan petunjuk-petunjuk yang semestinya sudah berada di depan mata.

Dosa itu menutup mata hati. Kalau dulu ia bersinar, bercak-bercak dosa itulah yang menutup hati sehingga tidak bisa melihat apa-apa lagi.  Rasulullah bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila ia berbuat dosa, maka akan terdapat titik hitam di hatinya. Apabila ia berhenti, beristighfar dan bertaubat, maka hatinya akan bercahaya. Namun apabila ia kembali kepada dosa itu, maka akan bertambah titik hitam itu sampai menutupi hatinya. Itulah Ar-Rân yang disebutkan dalam ayat

“Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka” (QS. Al Muthaffifin: 14-15)

***

Dosa itulah yang membuat usaha kita tidak berkah, menjadikan pekerjaan kita tidak menghasilkan apa-apa. Uang oleh banyak, tapi kalau tanpa berkah hanya akan membawa celaka dan mengundang malapetaka. Atau suatu ketika akan hilang dan entah lari kemana.

Syekh Abdullah Azzam pernah berpesan:

“Perhatikan hatimu, karena ia adalah benteng dan kudamu. Karena ia kendaraanmu. Karena ia yang membawa bekal-bekalmu untuk mengantarkanmu sampai ke negeri akhirat. Ia adalah kendaraanmu yang engkau kendarai hingga mengantarkanmu sampai ke surga yang penuh kenikmatan. Janganlah lalai terhadap benteng ini sehingga dirasuki was-was, keragu-raguan, kedengkian, dan riya. Perkuatlah ia dengan selalu mengingat Allah”

“Sesungguhnya yang menopang beban jihad secara keseluruhan adalah hati. Jika hati kuat dan besar, maka ia akan bisa memikul beban yang besar dan berat. Jika hati lemah dan kurus, ia tidak akan mampu memikul beban meskipun beban itu ringan. Perkuatlah hatimu. Jagalah ia dari serangan setan. Alat pertahanan dan senjata yang paling ampuh untuk menjaga hatimu adalah zikrullah..”

 

 ***

Pembaca…

Nampaknya kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh mengurusi hati ini. Tidak lama lagi kita hidup dan akhirnya berkalang tanah. Sebelum kematian itu datang,kita berusaha untuk menghapus dosa dosa dan menjadi lebih baik…

Jangan Melupakan Kebaikan Orang Lain

 

Marilah kita belajar sebuah adab yang mulia dari kisah singkat berikut ini:

Dikisahkan ada seorang raja memerintahkan prajuritnya untuk melaparkan 10 ekor anjing. Tujuannya adalah anjing-anjing itu nanti akan diberi makan dengan menteri-menteri dan pegawai yang berbuat kesalahan.

Salah seorang menteri terlanjur mengemukakan usulan salah, yang tidak disukai oleh raja. Rajapun memerintahkan prajuritnya untuk melemparkan menteri itu kepada anjing-anjing yang sudah dibuat lapar.

Menteri itu berkata kepada raja: Aku telah melayanimu selama 10 tahun, namun anda tega melakukan hal ini…? Beri tangguhlah pelaksanaan hukuman ku selama 10 hari.

Rajapun menyetujui permohonannya.

Menteri itu pergi kepada pemelihara anjing-anjing itu, lalu ia berkata: Aku ingin memelihara anjing-anjing ini selama 10 hari saja.

Pemelihara anjing: Silahkan, dengan senang hati.

Menteri itu pun merawat anjing-anjing itu. Ia memberinya makan, memandikan, membersihkan dan mengerjakan semua hal yang membuat anjing itu tenang.

Setelah berlalu 10 hari datanglah waktu pelaksanaan hukuman terhadap sang menteri. Ia dimasukkan ke dalam penjara yang sudah dipenuhi anjing. Raja dan para pengikutnya menyaksikan dari luar, ingin melihat bagaimana akhir kehidupan sang menteri.

Namun sang raja menjadi heran melihat pemandangan di depannya. Anjing-anjing itu justru menggonggong-gonggong sambil menjilati kaki sang menteri. Seolah-olah sangat berharap kepadanya.

Raja: Apa yang telah kau lakukan terhadap anjing-anjing itu?!

Menteri: Aku telah melayaninya selama 10 hari, tapi mereka tidak lupa pelayanan ku kepada mereka, sementara engkau sudah ku layani selama 10 tahun, namun engkau lupakan semua itu….

***

Islam mengajarkan untuk tidak melupakan kebaikan orang lain kepada kita.

Allah berfirman:

وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

dan janganlah kalian melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian”(QS. al-Baqarah:237)

Bahkan ketika mendapatkan nikmat, selain kita bersyukur kepada Allah, hendaklah kita tidak lupa berterimakasih kepada orang lain. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda

مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ

“Barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka tidak bersyukur kepada Allah” (Hadits Hasan Sahih Riwayat At-Tirmidzi)

***

Pertanyaannya, bagaimanakah cara kita berterimakasih atas budi baik orang lain kepada kita? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan

1. Berterima kasih, dan mendoakan kebaikan baginya

Ketika kita mendapat kebaikan, hendaknya kita mengucapkan jazaakumullah khayran (apabila laki-laki) dan jazaakilaah khayran (apabila perempuan.

Berdasarkan hadits:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا , فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.” (HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani)

2. Membalas perbuatannya dengan balasan yang setimpal

Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَكَافِئُوْهُ

“Barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah dengan setimpal.”(HR. Ahmad)

3. Apabila tidak dapat membalasnya dengan balasan yang setimpal, maka hendaknya ia mendoakannya.

Rasulullah Saw. bersabda:

وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikannya) dengan kebaikan yang setimpal dan jika kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya kebaikannya maka berdo’alah untuknya sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Ahmad)

4. Senantiasa mengingat kebaikan orang yang pernah berbuat baik kepadanya; dan tidak melupakannya

Allah berfirman:

وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

“dan janganlah kalian melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian” (QS. Al-Baqarah:237)

Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa “Keutamaan yang dimaksud adalah budi baik dan janganlah kalian meremehkan (melupakan) kebaikan di antara kalian…”

5. Menyebut-nyebut kebaikan orang yang pernah berbuat baik padanya

Dan lebih baik tidak dihadapan orang tersebut, untuk menyelamatkan orang tersebut dari UJUB, dan juga menyelamatkan diri kita dari sifat “cari muka”.

Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ أَتَى إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَلْيُكَافِئْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيَذْكُرْهُ فَمَنْ ذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ

Siapa yang diberikan kepadanya kebaikan maka balaslah setimpal. barangsiapa yang tidak mampu, maka sebutkanlah kebaikannya, barangsiapa yang menyebut-nyebut kebaikan, maka ia telah bersyukur (berterima kasih) (HR. Ahmad)

Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain…

Ingat-ingatlah kebaikan orang lain kepadamu…

Niscaya bahagialah hidupmu dan bersemangatlah dirimu untuk terus berbuat kebaikan kepada orang lain

Khutbah Idul Fitri 1436 H_Silahkan Download

Sms Ucapan Idul Fitri 1436HRekan rekan sekalian…

Selamat memasuki masa-masa iktikaf yang indah… Setelah ini saya pamit sejenak dari hadapan rekan rekan semua untuk mengejar berbagai macam ketertinggalan di Bulan Ramadhan ini yang sebentar lagi akan pergi.

Berikut ini saya persembahkan Khutbah Idul Fitri 1436 H dengan judul Raih Keberkahan Dengan Semangat Ramadhan. Semoga keberkahan demi keberkahan yang kita rasakan selama Ramadhan dapat kita terus lestarikan dengan mempelajari rahasia dan spirit Ramadhan.

Demikian dari saya. Semoga seluruh amal ibadah kita semua diterima oleh Allah Swt.

 

Download Khutbah Idul Fitri

 

 

Persembahan Bakti Kepada Kedua Orang Tua

cropped-Timeline_Cover_doNotRename91.png

Orang tua adalah salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita. Karena mereka berdualah sehingga kita hadir di dunia dan bertahan hidup hingga saat ini. Segala apa yang mereka miliki rela mereka korbankan agar anak-anak mereka tumbuh besar dengan sehat.

Islam menjadikan berbakti kepada kedua orang tua sebagai sebuah kewajiban yang sangat besar.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

“dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia” (Al-Isra’: 23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang amal-amal saleh yang paling tinggi dan mulia,

“Shalat tepat pada waktunya … berbuat baik kepada kedua orang tua … jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah … betapa kedudukan orang tua sangat agung dalam Islam, sampai-sampai Rasulullah Saw. menempatkannya sebagai salah satu amalan yang paling utama. Lalu, sudahkah kita berbakti kepada kedua orang tua?

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Lagi-lagi beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu pun bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Maka beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

***

Kehadiran orang tua sangatlah memberi ketenangan, cinta, serta kasih sayang tersendiri yang bersemi di hati segenap insan yang berakal. Mereka biarkan kesedihan dan keletihan demi senyuman buah hatinya. Mereka curahkan segenap pengorbanan demi kebahagiaan sang buah hati. Mereka adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mereka adalah sekotak permata paling berharga, sekeping emas termahal yang dapat mengantarkan kita ke surga-Nya.

Mereka tidak peduli diri mereka sakit, asalkan anak yang menjadi buah hatinya dalam keadaan sehat. Mereka rela hidup sengsara asalkan sang anak bahagia.

Dikisahkan, pada masa kekuasaan Al-Abbasiyyah ada seorang laki-laki mendatangi rumah seorang wanita, lalu ia mengetuk pintu dan memintanya melunasi utang. Perempuan itu menampakkan ketidakmampuannya untuk melunasi utang sehingga orang itu marah dan memukulnya lantas pergi. Kemudian dia datang sekali lagi menemui wanita tersebut. Akan tetapi, kali ini yang membukakan pintu adalah anak laki-laki dari wanita itu. Tamu itu menanyakan di mana ibunya. Anak tersebut menjawab, “Ibuku pergi ke pasar.” Laki-laki itu menyangka bahwa anak tersebut berdusta sehingga ia memukul anak itu dengan pukulan yang tidak begitu keras.

Tiba-tiba ibunya muncul dan melihat laki-laki itu memukul putranya maka ia menangis sejadi-jadinya. Laki-laki itu bertanya kepadanya, “Aku tidak memukulnya dengan keras, mengapa engkau menangis? Padahal kemarin aku memukulmu lebih keras, tetapi engkau tidak menangis.”

Sang ibu menjawab, “Kemarin engkau memukul kulitku, dan sekarang engkau memukul hatiku ….”

Laki-laki tersebut terharu dan memaafkannya, serta bersumpah untuk tidak menuntut utangnya lagi semenjak itu.

Masya Allah …

***

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan penyebab keberkahan dan bertambahnya rezeki kita. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Ahmad).

Hati-hatilah, barangsiapa yang berbakti kepada bapak ibunya maka anak-anaknya akan berbakti kepadanya, dan barangsiapa yang durhaka kepada keduanya maka anak-anaknya pun akan durhaka pula kepadanya.

Seorang ulama, Tsabit Al-Banany bercerita, “Aku pernah melihat seseorang memukul bapaknya di suatu tempat. Maka dikatakan kepadanya, ‘Apa-apaan ini?’ Sang ayah berkata, ‘Biarkanlah dia. Sesungguhnya dulu aku memukul ayahku pada bagian ini maka aku diuji Allah dengan anakku sendiri, ia memukulku pada bagian ini. Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian.’”

Seseorang yang berbakti kepada kedua orang tua maka amalnya akan diterima. Diterimanya amal akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Kalau aku tahu bahwasanya aku punya shalat yang diterima, pasti aku bersandar kepada hal itu. Barangsiapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya, sesungguhnya Allah menerima amalnya.” Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, murka Allah pada murka orang tua.

***

Suatu kali Abu Hurairah dipanggil oleh ibunya.

Lalu ia menjawab: Iya bu…

Setelah itu ia merasa kalau suaranya lebih tinggi sedikit dari suara ibunya. Karena itu ia langsung beristighfar.

Selanjutnya ia pergi kepasar untuk membeli dua orang budak. Lalu keduanya dimerdekakan, berharap pahala dari Allah sebagai tanda taubat dari maksiat meninggikan suara kepada ibunya. Bandingkanlah dengan diri kita, sudah berapakah kesalahan yang kita lakukan kepada orang tua kita, dan kapankah terakhir kali kita bertaubat kepada Allah dan memohon maaf kepada mereka?

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda, “Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya,”Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Di Bulan Ramadhan yang mulia ini, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memberikan kita kekuatan untuk dapat berbakti kepada kedua orang tua kita dengan sebaik-baiknya. Amin…

 

 

1 2 3 31