Hidup Sederhana dan Bersahaja

Zemanta Related Posts Thumbnail

Suatu kali, sahabat Umar bin Khathab melihat Rasulullah Saw, tidur di atas tikar yang kasar. Di dekat tikar itu ada sehelai sarung, satu sha’ gandum dan ada sebuah kulit yang tergantung di dinding. Umar tidak kuasa menahan cucuran air matanya.

“Apa yang membuatmu menangis, Umar?” tanya Rasulullah saat beliau terbangun,

Umar berkata, “Ya Rasulullah, di sana para kisra dan kaisar tidur di atas ranjang bertahtakan sutera dan permata. Sementara Anda di sini tidur di atas tikar yang kasar”

Beliau hanya menjawab, “Wahai putra Khathab. Sesungguhnya ranjang para kisra dan kaisar itu ujung-ujungnya adalah neraka, sementara kasurku ini akan berakhir di surga. Apakah engkau tidak rela, bagi mereka dunia dan bagi kita akhirat?”

Suatu ketika Saat beliau bangun, tampaklah bekas tikar di pipi beliau.

“Wahai Rasulullah Saw, bila Anda mengizinkan, tentulah kami akan membuatkan tempat tidur yang lebih layak dan lebih bagus untuk Anda”

Namun apa jawab Rasul?

“Apalah artinya dunia ini bagiku?” kata beliau

“Keberadaanku di dunia ini hanya seperti seorang musafir yang bernaung di sebuah pohon, lalu kemudian pergi dan meninggalkannya.”

***

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah memang sangat bersahaja. Beliau menambal sendiri bajunya yang robek, membersihkan rumah, dan memperbaiki perlengkapan atau peralatan yang rusak. Di dalam rumahnya, tidak terdapat banyak perabot. Bahkan, beliau tidur hanya beralaskan anyaman daun kurma, sehingga bekasnya tampak jelas di punggungnya.

Namun semua itu tidak disebut miskin. Karena, miskin merupakan kondisi yang serba kurang, sedangkan Rasulullah hidup dalam keadaan berkecukupan. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menempatkan kehormatan diri pada harta dan kekayaan. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat tampilan dan pakaian kalian, tetapi melihat apa yang ada dalam hati kalian”. Kekayaan tidaklah harus diartikan dengan banyaknya harta, tetapi kaya dalam arti hati, yaitu keimanan dan keislaman.

Kesederhanaan yang Rasulullah terapkan dalam kehidupannya sehari-hari, bukanlah karena kemalasan sehingga terlihat lusuh dan kumuh. Rasulullah sangat tidak menyukai hal-hal yang kotor. “Kebersihan adalah sebagain dari iman”. Karena itu, Nabi menyisir rambutnya yang berombak hingga ke bahu, bersiwak lebih dari tujuh kali setiap hari, dan sering menggunakan wewangian.

Kesederhanaan juga tidak membuat seseorang menjadi lemah, Nabi menegaskan, “Mukmin yang kuat lebih disukai daripada mukmin yang lemah”.

***

Lawan dari sederhana dan bersahaja adalah berlebih-lebihan. Islam sangat membenci hal ini.Sebab dalam segala hal, sesuatu yang berlebih-lebihan itu pasti akan mendatangkan mudharat dan bisa membahayakan jiwa. Oleh keadaan yang demikian inilah Allah dan Rasul-Nya mengarahkan orang-orang yang beriman untuk hidup dalam kebersahajaan dan sederhana dalam setiap gerak langkah hidup mereka. Allah SWT berfirman:

وَلا تُسرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (١٤١)

“…dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”  (Q.S.Al-An’aam: 141)

Perintah untuk hidup sederhana dan bersahaja tersebut secara umum telah diperingatkan Allah dan Rasul-Nya; tidak hanya kepada hal-hal yang bersifat konsumtif; akan tetapi juga meliputi masalah budi pekerti dan masalah ibadah.

Untuk hal-hal yang bersifat konsumtif secara umum Allah peringatkan dengan firman-Nya:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”  (Q.S.Al-A’raaf: 31)

Hal yang demikian itu secara tersirat dan tersurat juga dapat kita lihat dalam perintah Allah agar kita tidak membelanjakan harta dengan boros, tapi juga tidak pula boleh berlaku pelit atau kikir. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (٦٧)

“dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan (boros) dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al-Furqan: 67)

Bila hati kita sudah condong kepada dunia, hanya terpikir kepada bisnis, sangat bernafsu kepada harta, maka bacalah kembali kehidupan Rasulullah Saw. Hati ini akan lebih tentram, lebih damai. Nafsu kita akan sedikit tertahan. Kehidupan beliau menjadi penawar hati yang sedang membara mengejar dunia.

Membuktikan Cinta Kepada Rasulullah

 

Saat perang Uhud, kabar terbunuhnya Rasulullah Saw. pada Perang Uhud tersiar dengan cepat. Informasi sampai juga ke telinga seorang perempuan dari Bani Dinar. Saat usai perang, ia berdiri di tempat yang dilewati oleh pasukan kaum muslimin.

“Bagaimana kondisi Rasulullah Saw.?” tanya perempuan kepada seorang prajurit yang baru datang.

“Ibu, saat perang tadi, suamimu telah terbunuh” jawab tentara ini sambil berlalu

“Bagaimana kondisi Rasulullah Saw.?” tanya perempuan kepada seorang prajurit berikutnya yang datang.

“Ibu, saat perang tadi, saudaramu telah terbunuh” jawab prajurit ini sambil berlalu

“Bagaimana kondisi Rasulullah Saw.?” tanya perempuan kepada seorang prajurit lain yang datang.

“Ibu, saat perang tadi, suamimu telah terbunuh” jawab prajurit ini sambil berlalu

“Bagaiman kondisi Rasulullah Saw.?” tanya perempuan kepada seorang prajurit berikutnya yang datang.

“Alhamdulillah Rasulullah Saw. dalam keadaan baik-baik saja” jawab prajurit ini sambil berlalu.

“Dimana? Dimana beliau? Aku ingin melihatnya..!” kata perempuan ini lagi.

Mereke menunjuk tempat dimana Rasulullah Saw. berada. Perempuan in segera berlari menemui Rasulullah Saw..

“Ya Rasul, sungguh asal Anda selamat, musibah apa pun yang menimpaku adalah kecil” kata ibu ini dengan penuh cinta kepada rasulnya.

***

Sudah menjadi kewajiban kita untuk mencinta Rasulullah Saw. , junjungan kita yang mulia. Pribadi beliau sangat indah dan pantas untuk dicintai.

Beliau adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Beliau sangat dermawan, paling dermawan di antara manusia. Pada bulan Ramadhan, beliau lebih dermawan lagi, lebih kencang memberi dibanding angin yang berhembus.

Jika memilih urusan, beliau pilih yang paling mudah selama tidak melanggar syariat Allah. Beliau sangat menghindar dari dosa. Jika diri beliau dizalimi, beliau sangat sabar. Namun, jika hak Allah yang dilanggar, beliau sangat murka.

Sangat pemalu melebihi gadis pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, langsung terlihat pada raut wajahnya. Beliau tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau suka maka beliau makan makanan itu. Jika tidak suka, maka beliau tinggalkan tanpa mencelanya.

Bicaranya sangat fasih dan jelas. Beliau menguasai logat-logat bangsa Arab. Mampu berbicara pada tiap suku bangsa Arab dengan logat masing-masing suku.

Jika dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab, “Tidak.”

Beliau sangat pemberani. Berapa banyak para pemberani dan patriot yang jika bertemu beliau, mereka lari. Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika kami sedang ketakutan dan dikepung bahaya, kami berlindung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak satu pun yang jaraknya lebih dekat kepada musuh selain beliau.”

Beliau sangat jujur dan amanah. Sebelum diutus menjadi nabi dan rasul, beliau dijuluki “Al-Amin”. Al-Amin artinya “yang terpercaya”. Bahkan, musuh pun mengakui kejujuran dan amanahnya. Abu Jahal pernah berkata, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan ajaranmu.”

Beliau sangat tawadhu‘ dan jauh dari sifat sombong. Jika beliau datang ke suatu majelis, beliau tidak mau disambut seperti raja. Biasanya, jika seorang raja datang, orang-orang berdiri untuk menyambutnya. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin disambut seperti raja. Mari kita lihat, betapa rendah hatinya beliau.

Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, dan duduk-duduk bersama sahabatnya.

Beliau sangat suka memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling penyayang, dan lembut terhadap orang lain, suka memaafkan, dan lapang dada. Terhadap pembantu, beliau tidak pernah membentak atau menyalahkan pekerjaan pembantunya yang tidak beres. Terhadap orang miskin, beliau cinta dan suka duduk-duduk bersama. Beliau menghadiri pemakaman jenazah orang-orang miskin, dan tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.

Beliau senantiasa gembira, lebih banyak diam. Tawa beliau adalah dengan senyuman. Jika bicara tidak terlalu pelan dan tidak terlalu keras suaranya. Bicaranya jelas, bahasanya fasih dan mudah dimengerti.

***

Sungguh sangat beruntung kita dapat menjadi bagian dari umat beliau. Namun itu tidak cukup. Kita penting untuk memperjuangkan ajaran beliau yang sudah diserang di sana-sani. Betul islam itu memang tinggi dan tak ada yang akan menyamai ketinggiannya. Tapi kewajiban kitalah untuk menjaga ketinggian itu. Amat sangat memalukan dan aib bagi kita yang mengaku umat Rasulullah, bila pada zaman kita, cahaya islam yang sangat terang benderang itu akhirnya menjadi redup karena kita tidak sungguh-sungguh menjaganya.

Pembuktian cinta kepada Rasulullah, tak cukup dengan menaburkan puji-pujian kepada beliau. Tapi lebih dari itu, bukti cinta itu terlihat dari kekokohan kita mengikuti sunnah beliau dengan dengan setia. Membela tauhid yang kini banyak diserang oleh orang-orang syiah untuk mencabik-cabik agama ini dengan berbagai kemungkaran yang dilakukannya.

Kelak Rasulullah akan bersama orang-orang yang mencintainya;  merekalah orang-orang yang setia mengikuti perikehidupan beliau dan menjaga ajaran agama yang beliau tinggalkan..

Tak sekedar berharap, derajat yang tinggi dan mulia itu mesti diperjuangkan dengan menjaga nama baik beliau dan mengikuti sunnah-sunnah beliau. Sebab kapan dan dimanapun, kecintaan selalu menuntut pembuktian…

Cinta Rasulullah kan? Ayo mari kita buktikan kecintaan itu…!

Seperti wanita dari Bani Dinar yang telah membuktikan bahwa cintanya kepada Rasulullah lebih dari segalanya

#Rajutan Makna Dari Kisah Mengharukan Dalam Kehidupan Rasulullah

Cermin Akhlak Rasul yang Mulia

Zemanta Related Posts Thumbnail

Tak dapat disangkal lagi, Rasulullah Saw. adalah teladan kemuliaan akhlak sepanjang masa. Keindahan akhlak beliau sangat memesona, memancarkan keindahan bagi siapa yang pernah bergaul dengan beliau, membuat setiap orang dengan sendirinya akan memberikan penghormatan, penghargaan, dan rasa cinta yang tiada kepada beliau.

Alangkah indahnya bila kita dapat mengikuti sebagian sifat-sifat beliau, sehingga diri kita bisa ikut mulia karena mengikuti sifat-sifat tersebut.

Imam Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa cucu Rasulullah Saw. , Hasan bin Ali Abi Thalib, pernah bertanya kepada ayahnya,

“Ayahku, bagaimanakah akhlak Rasulullah Saw. ketika di luar rumah?”

Sahabat Ali bin Abi Thalib menjawab,

“Rasulullah Saw. selalu menjaga lisannya dan tidak berbicara kecuali untuk menolong, menyatukan, dan menentramkan manusia. Beliau senantiasa menghormati orang ang dermawan dalam setiap kaum dan menjadikannya sebagai pemimpin mereka. Beliau selalu megingatkan manusia dan menjaga diri dari mereka tanpa memendam niat jahat atau sikap yang buruk kepada salah seorang diantara mereka”

“Beliau selalu menjenguk para sahabatnya dan menanyakan kepada mereka tentang kabar mereka. Beliau mengatakan baik kepada sesuatu yang baik dan meneguhkannya, mengatakan buruk kepada sesuatu yang buruk dan melemahkannya dengan melarang dan mencegahnya. Bersikap seimbang dalam setiap setiap urusan dan tidak pernah menyimpang, tidak pernah lalai karena khawatir orang-orang akan lalai atau menyeleweng. Beliau selalu siap menghadapi berbagai kondisi, tidak menyia-nyiakan kebenaran dan tidak juga melampauinya”

“Orang-orang yang terbaik adalah yang menyayangi beliau. Orang-orang yang paling utama dalam pandangan beliau adalah orang-orang yang paling banyak menebarkan nasehat, dan orang-orang yang paling agung di mata beliau adalah orang-orang yang paling baik dalam memberikan pertolongan dan dukungan”

***

Hasan bertanya lagi, “Ayahku, bagaimanakah akhlak Rasulullah Saw. ketika duduk?”

Sahabat Ali bin Abi Thalib menjawab,

“Rasulullah Saw. tidak duduk dan tidak pula bangkit kecuali dalam keadaan berzikir kepada Allah. Beliau tidak menempati tempat-tempat tertentu lalu melarang orang lain untuk menempatinya. Apabila datang di tempat suatu kaum, beliau duduk di deretan paling ujung dan beliau menyuruh demikian”

“Beliau selalu memberikan perhatian kepada orang yang duduk bersama beliau, sehingga ia menyangka bahwa tidak ada orang yang lebih menghormati dirinya daripada beliau. Beliau selalu bersikap sabar terhadap orang-orang yang duduk atau berdiri bersama beliau sampai orang itu beranjak meninggalkan beliau.”

“Tidak ada satupun orang yang meminta, kecuali beliau akan mengabulkannya atau memberikan kepadanya kata-kata yang lembut. Kelembutan dan akhlak beliau telah memenuhi masyarakat sehingga beliau seakan menjadi bapak bagi mereka dan mereka menjadi anak-anak baginya yang memberikan hak kepada mereka secara adil.”

“Forum pertemuan beliau adalah forum yang penuh dengan sikap santun, rasa malu, sabar, dan amanah. Tidak ada suara yang meninggi, tidak ada penghinaan terhadap orang-orang yang mulia, dan tidak ada upaya untuk menyebarkan dan membongkar kesalahannya. Semua orang bersikap adil dan berlomba-lomba dalam ketakwaan. Mereka bersikap tawadhu, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, memprioritaskan orang-orang yang memerlukan pertolongan, dan melindungi orang asing.”

 

***

Hasan bertanya lagi kepada ayahnya mengenai perilaku beliau kepada teman dekatnya.

Ayahnya, Sayidina Ali bin Abi Thalib, kembali menjawab,

“Rasulullah Saw. senantiasa ceria, berakhlak mulia, dan menghormati sesama. Beliau tidak buruk perilakunya, tidak kasar sikapnya, tidak suka berteriak-teriak, tidak mencaci-maki, tidak banyak bercanda. Beliau meninggalkan apa yang tidak disukai, tetapi tidak memaksa orang lain yang mencintainya agar membenci atau meninggalkannya. Beliau tidak melakukan tiga hal kepada orang lain; beliau tidak mencela atau mencaci maki seorang pun, beliau tidak membuka aurat, dan beliau tidak berbicara kecuali mengenai hal-hal yang bisa diharapkan akan mendatangkan pahala baginya”

“Ketika beliau berbicara, orang-orang akan menunduk dengan khusyu seakan-akan di atas kepala mereka sedang bertengger seekor burung. Ketika beliau berbicara, mereka diam, dan setelah beliau diam baru mereka berbicara. Mereka tidak berani melakukan perdebatan di hadapan beliau. Beliau tertawa mendengar hal-hal yang membuat mereka kagum.”

“Beliau bersikap sabar terhadap orang-orang asing yang bersikap kasar dalam berbicara ataupun meminta, sehingga para sahabat beliau sangat mengharapkan agar beliau mengeluarkan kata-kata untuk menyadarkannya. Namun beliau justru bersabda, “Apabila kalian melihat seseorang mempunyai keperluan, maka berikanlah pertolongan. Jangan menerima pujian kecuali dari orang yang ingin membalas kebaikan. Jangan memotong pembicaraan orang lain sampai ia menyelesaikan pembicaraannya atau bangkit dari duduknya”

Inilah sekelumit tentang indahnya akhlak Rasulullah Saw. Inilah perilaku makhluk termulia dan teragung se jagad raya. Inilah teladan paling baik. Mengikuti tata hidup adalah cara tercepat untuk mendapatkan kemuliaan budi pekerti, mendapatkan cinta dan simpati dari sesama, meraih ridha dari Allah Swt.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memberikan kita kekuatan untuk dapat meneladani Rasulullah Saw. dengan sebaik-baiknya. Amin..

 

#Rajutan Makna Dari Kisah Mengharukan Dalam Kehidupan Rasulullah

Apapun Alasannya, Janji Harus Dipenuhi

hape anak

Memenuhi janji adalah salah satu akhlak yang sangat terpuji. Rasulullah Saw. adalah contoh paling baik dalam hal ini. Pribadi beliau sangat memesona. Beliau sangat menjaga dan memegang teguh kata-katanya apapun yang terjadi. Kisah berikut ini semoga bisa memberikan gambaran kepada kita tentang akhlak beliau yang sangat mulia ini.

Rasa bahagia memenuhi hati sahabat Hudzaifah dan bapaknya saat mereka berdua menuju Madinah. Bahagia karena kelak di sana nanti mereka bisa hidup berdampingan dengan Rasulullah Saw. yang sangat mereka cintai.

Namun apa daya, di tengah jalan mereka dicegat oleh rombongan quraisy.

“Kalian pasti akan menemui Muhammad” kata orang-orang yang mencegat.

Mereka terus mencegat keduanya dan tidak membiarkan mereka pergi kecuali keduanya mau berjanji untuk tidak ikut berperang bersama Nabi Muhammad Saw.

“Iya, kami berjanji” ujar Hudzaifah dan ayahnya

Akhirnya keduanya dilepaskan. Mereka bergegas menuju Madinah, segera menemui Rasulullah Saw. dan menceritakan apa yang terjadi.

Saat  keberangkatan menuju Badar, pasukan kaum muslimin bersiap-siap berperang melawan kafir quraisy untuk menjemput syahid dan menegakkan kalimat Allah. Para sahabat semuanya ingin turut serta bersama Rasulullah Saw., tidak terkecuali Hudzaifah dan ayahnya. Namun mereka berdua tetap tinggal di Madinah karena memenuhi janji.

Tentang keduanya, Rasulullah Saw. berkata “Kita akan memohon pertolongan Allah dalam menghadapi mereka, dan kita pun akan memenuhi janji kita kepada mereka.”

***

Sungguh mulia akhlak Rasulullah Saw. Beliau teguh memenuhi janji dalam posisi sulit sekalipun walaupun itu kepada musuh. Sejak muda sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau sudah terkenal dengan julukan Al-Amin, yaitu orang yang terpercaya. Nama beliau menjadi sangat termasyhur di kalangan orang-orang quraisy karena dapat menjadi seorang yang jujur dan terpercaya saat kebohongan dan pengkhianatan menyebar dimana-mana.

Pada kenyataaannya, dalam bermasyarakat kepercayaan menjadi modal hidup yang utama. Kita merasa bahagia dipimpin oleh seorang yang amanah dan memenuhi janji. Kita akan senang bermitra dengan seorang yang terpercaya. Kita akan bahagia mempunyai teman yang kata-katanya selalu benar dan tak pernah dusta.

Seseorang yang dipercaya akan selalu mendapatkan kemudahan hidup. Ia hidup dengan tenang dan nyaman. Orang lain pun merasa aman saat berinteraksi dengannya.  Saat mendapatkan masalah, orang lain akan berbondong-bondong datang membantu.

Namun, jika kepercayaan itu sudah tidak ada lagi, maka jangankan membantu, untuk dekat pun orang akan merasa takut. Takut tertipu, takut mendapat masalah, takut mendapat celaka, takut dirugikan, bahkan takut akan keselamatan dirinya. Orang banyak pun akan menjauhinya. Itulah gambaran pentingnya sebuah kepercayaan.

Dalam Al-Qur’an Allah Swt. telah menekankan:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولا

Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.(QS. Al-Isra’: 34)

***

Lawan dari amanah dan memenuhi janji adalah khianat. Kalau amanah dan memenuhi janji termasuk karakter keimanan dan ketakwaan, maka khianat dan melanggar (janji) termasuk karakter kenifakan dan kedurhakaan.

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ 

“Empat (prilaku) kalau seseorang ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai, melampau batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai  dia meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma dari Rasulullah sallallahu’alaihi wa salam bersabda,

إِنَّ الْغَادِرَ يَنْصِبُ اللَّهُ لَهُ لِوَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ أَلَا هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانٍ

“Sungguh, Allah akan tancapkan bendera bagi orang yang berkhianat di hari kiamat. Lalu dikatakan: ‘Ketahuilah ini adalah pengkhianatan di fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita memohon kepada Allah agar senantiasa dijadikan orang-orang yang menepati janji dan sumpah setia. Serta kita berlindung dari pengkhianatan dan melanggar janji. Semoga kita juga mendapatkan taufik agar baik dalam perkataan dan perbuatan.

Kebiasaan Penguni Surga

blue-sky

Pertama-tama saya ingin bertanya kepadamu sahabat…

Maukah bapak dan ibu sekali menjadi penduduk surga?

Bila mau, maka kita mari kita lakukan sekarang juga. Tidak perlu menunda-nunda dan menunggu mati terlebih dahulu

Caranya…..?

Rasulullah mengatakan bahwa penduduk surga itu diilhamkan kepadanya untuk berzikir seperti kita bernafas. Sehingga mereka selalu dalam kondisi berzikir dan tidak terganggu serta tidak merasa terganggu oleh aktifitas apapun.

Orang yang bisa membiasakan kondisi seperti itu di dunia ini berarti dia sudah duluan masuk surga sebelum meninggal. Paling kurang surga dunia. Orang yang sanggup begitu pasti hidupnya bahagia, aman, nyaman dan tentram.

***

Di mesjid Rasul, ada beberapa orang sahabat muhajirin yang sdah tua duduk berzikir , bertasbih, tahmid, dan membaca Al-Qur’an.

Tiba-tiba Rasulullah Saw. masuk mesjid dan langsung menyapa mereka,

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya beliau.

“Kami sedang mendengarkan salah seorang diantara membaca Al-Qur’an “ jawab mereka

Rasululllah menjawabnya dengan ucapan tahmid, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diantara umatku ada mereka yang aku diminta untuk menyabarkan diriku bersama mereka”

Ini seperti yang Allah sebutkan dalam Surah Al-Kahf ayat 28,

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Rasulullah duduk diantara mereka. Beliau bersabda, “Berbahagialah wahai para muhajirin dan anshar dengan cahaya yang sempurna. Kalian akan masuk surga setengah hari atau 500 tahun sebelum orang-rang kaya.

Rasulullah bersabda, “Dudukku bersama suatu kaum yang berzikir kepada Allah Swt. semenjak shalat subuh hingga terbitnya matahari lebih saya sukai dari pada saya memerdekakan empat orang budak keturunan Ismail.

Dan duduknya  saya bersama suatu kaum yang berzikir kepada Allah Swt. semenjak shalat ashar hingga menjelang terbenam matahari lebih saya sukai dari pada memerdekakan empat budak”.

***

Sungguh hati dan akal kita tidak pernah berhenti sedetikpun bekerja. Akal pikiran dan perasaan terus mengembara dan menjelajah, berpikir dan merasa tentang berbagai hal yang pernah ia lihat, ia dengar, atau ia rasakan. Bila tidak disibukkan dengan kebaikan, kedua kendali kehidupan ini akan disibukkan dengan keburukan.

Mengingat Allah adalah cara paling baik untuk menjernihkan pikiran dan mendamaikan perasaan.

Berzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak.

Berzikir kepada Allah merupakan upaya penyelamatan jiwa dari berbagi kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Zikir adalah jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memberikan kita kekuatan untuk dapat selalu mengingat Allah Swt kapan dan dimana saja. Amin

 

@kakmuma

Rajutan Makna Dari Buku Dahsyatnya 7Kalimat Thayyibah

 

1 2 3 29