Keberanian Para Penakut

Zemanta Related Posts Thumbnail

Di ujung sajadahnya, ia letakkan wajahnya yang paling mulia. Dahi sejajar dengan kaki. Dalam sujud yang panjang itu ia pasrahkan dirinya kepada Sang Maha Kuasa.

Di keheningan malam, ia menghinakan dirinya di hadapan Rabb-nya yang Maha Mulia. Dan hanya kepada-Nyalah ketundukan itu dan kerendahan diri ia lakukan.

Sementara di hadapan manusia, ia berdiri sama tega. Kekuatan tauhid membuat semua yang ada di hadapannya menjadi hampa. Yang terlihat hanyalah Dia dan kemahakuasaan-Nya.

Seperti Khubaib bin Adi menantang pasukan Quraisy yang menangkapnya. Pendiriannya teguh walau di depannya ada tiang salib yang beraroma kematian. Dan ia pun syahid di atas tiang salib itu sebagai perwira pemberani.
***
Jauh setelah Khubaib meninggal banyak orang yang berani menentang kematian. Lihatlah pasukan sejumlah 3000 orang yang berani melawan pasukan romawi sejumlah 200.000 itu. Secara logika ini sama dengan bunuh diri.
Apalagi yang 3000 orang itu hanyalah rakyat jelata, sementara yang 200.000 orang itu terdiri dari prajurit perang yang terlatih dengan senjata yang memadai.

Tetapi kehormatan adalah hal yang perlu dibela. Penghinaan Raja Ghassan membunuh Al-Harits bin Umair yang menjadi utusan Rasul tidak boleh didiamkan. Maka walaupun harus mengorbankan nyawa sekalipun, perlakukan ini harus dituntut balas.

Perang Mu’tah menjadi bukti keperkasaan para lelaki sejati.

Apakah engkau pikir itu mudah?
Bandingkan dengan sebuah negara yang punya persenjataan lengkap dan kemampuan angkatan bersenjata yang memadai, tetapi tidak berani melawan, melarang pun tidak, pada orang-orang yang merampok hasil bumi dan kekayaan negaranya, di saat rakyat-rakyatnya banyak yang menderita kepalaran.

Nyata terlihat di depan orang-orang asing itu membombardir negara ini dengan proyek-proyek besarnya untuk kepentingan negaranya, tapi sang kepala hanya melongo dengan tak berdaya
***
Bagi rakyat, Umar bin Abdul Aziz adalah rahmat. Tapi bagi keluarga mendiang Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, ia adalah bencana. Bagaimana tidak? Umar dengan gagah berani melucuti semua fasilitas kemewahan yang mereka gunakan selama ini. Semuanya diambil dan dikembalikan ke Baitul Mal.

Engkau pikir ini mudah?
Bandingkan dengan seorang kepala sebuah negara yang tidak berani mengambil keputusan mengangkat seorang pejabat hanya karena takut resiko dan perlawanan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tetap saja menjadi ekor walaupun berada di posisi kepala.
***

Saat Jepang masih menancapkan kuku kekuasaannya di bumi pertiwi ini, mereka memaksa para rakyat dan pribumi ikuti kebiasaan mereka.

Para pekerja paksa di kamp-kamp Jepang setiap pagi diperintahkan untuk berdiri menghadap ke timur –menghormati dewa matahari– membungkuk untuk menghormati kaisar dan kembali berdiri tegak untuk dijemur di bawah terik matahari.

Perintahnya adalah “Kiotskay!” (perhatian), “Kiray!” (membungkuk memberi hormat), “Nowray!” (berdiri tegak).

Cerita perlawanan saat masa pendudukan ini tidak banyak rekamnya. Tidak ada perlawanan pada saat itu.

Bahkan setiap kali Jepang mengadakan acara, selalu ada sesi melakukan seikere (membungkuk ke arah matahari) atas perintah tentara Jepang. Surban-surban pun menyentuh lantai. Kopiah-kopiah menjadi miring. Topi-topi kehormatan dijaga agar tak jatuh. Semua hadirin ikut membungkuk.

Tapi tidak dengan seorang ulama pemberani yang berada di pojok sana. Ia tetap berdiri dengan tegak, tak ikut melakukan penghormatan. Ia adalah Haji Karim Amrullah. Ia menolak mentah-mentah perintah yang berkonotasi ‘menyembah matahari’ itu. Ia pun sadar sepenuhnya akan risiko atas penyikapannya itu.

Ketika anaknya bertanya tentang keberanian itu yang kemungkinan akan menyebabkan kematiannya, sang ayah pemberani ini hanya menjawab

“Ayah tidak takut mati. Tapi ayah takut apa yang setelah mati nanti. Ayah hanya takut tidak bisa jawab pertanyaan Munkar Nakir!”

Anda pikir ini mudah?
Bandingkanlah dengan para pemimpin negeri ini yang lidah mereka kelu menyuarakan kebenaran hanya karena takut posisinya terganggu. Prinsipnya adalah cari aman, walaupun kemungkaran ada di hadapannya.

Perasaan “nanti dianggap tidak toleransi lagi” membuat lidahnya kelu untuk berkata bahwa merayakan hari natal dan valentine itu haram bagi umat islam. Bahwa Syi’ah itu sesat dan munkar. Bahwa sekuler dan liberal itu adalah paham yang merusak kehidupan.

Sedikit sms dan telpon teror sudah membuatnya berhenti untuk mengungkapkan kebenaran sejati

***

Khubaib bin Adi, Umar bin Abdul Aziz, Haji Abdul Karim Amrullah, dan pasukan perang Mu’tah adalah sebagian kecil dari barisan pejuang umat ini yang penakut.

Mereka takut kepada Allah, takut pertanggungjawaban hari akhirat, takut tidak mampu menegakkan kebenaran.

Di Mesir, orang-orang bermental penakut ini sangat banyak. Tegaknya Islam dan pergerakan keislaman tidak luput dari perjuangan mereka yang banyak bersimpah darah dan tak jarang harus meregang nyawa.

Ketakutan yang besar itu mengalahkan ketakutan-ketakutan kecil dan menjadikan mereka sosok-sosok pemberani.

Ketakutan yang besar itu; menjadikan mereka orang-orang besar dan menuntaskan pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah umat manusia.

***
Maka rasanya sebelum kita membekali diri ini dengan berbagai macam ilmu dan pengetahuan, perlu juga kita meluangkan waktu untuk belajar takut kepada Allah, belajar takut kepada hari akhirat, belajar takut tak mampu mempertahankan kebenaran…

Terimakasih ya Rasulullah atas doa yang Baginda ajarkan…

“Allahummaj’al khasy-yataka akhwafal Asy-ya’i ‘indi” (Ya Allah jadikanlah rasa takut kepadaMu menjadi sesuatu yang paling aku takuti)

Umarulfaruq
www.hafalaquran.com

 

Lebih Dari Sekedar Retorika

Seminar Hall

Saat pelatihan pembimbing umrah Maghfirah Travel di Jakarta, saya sempat bertanya kepada Ust. Ahmad Hatta, direktur Maghfirah, tentang teknis menyampaikan materi kepada Jamaah. Rasa-rasanya saya pribadi masih merasa kurang dalam kemampuan menyampaikan. Bagaimana caranya biar bisa tampil dengan pede tinggi, ekspresi bebas, bahkan sampai loncat-loncat di hadapan jamaah seperti yang dilakukan oleh seorang ustadz.

Sebagai seorang pembicara professional, saya berharap Ust. Hatta bisa membagikan rahasia tips dan trik public speaking dari beliau, terutama untuk meningkatkan percaya diri tadi.

Ternyata jawaban beliau lain, itu sangat mengejutkan saya. Tapi justru itulah sesungguhnya rahasia dari keterampilan berbicara di hadapan publik.

“Sesungguhnya yang paling penting itu adalah bagaimana mengelola hati kita. Bagaimana kita menjadikan hati kita bersih dan lebih dekat kepada Allah. Sebab apa yang keluar dari hati akan masuk ke hati juga, walaupun tanpa didukung oleh berbagai macam bentuk retorika” kata Ust. Hatta.

“Lihatlah ulama-ulama dulu. Mereka berbicara biasa saja. Tapi karena hati mereka bersih, disampaikan  dengan tekad yang kuat, maka kata-kata mereka masuk ke hati kita dan memberikan pengaruh yang luar biasa. Inilah kekuata inner beauty yang sebenarnya. Sementara kita, mungkin karena hati kita yang belum tertata dengan baik, maka kita masih perlu mendukung penyampaian itu dengan beragam retorika agar tampak menarik dan bisa diterima”

“Saya ingat dulu ketika masih mahasiswa di Universitas Madinah. Ada seorang Syekh yang luar biasa dan kata-katanya memiliki pengaruh yang hebat. Namanya Syekh Mukhtar Asy-Syinqithi. Kemana saja beliau ceramah selalu saya hadiri walaupun tempatnya jauh. Padahal ketika ceramah, penyampaian beliau datar saja, bahkan sambil menunduk dan tidak melihat ke jamaah. Namun berkat keikhlasan dan kebersihan hati beliau, apa yang beliau sampaikan langsung masuk ke hati juga” demikian ujar Ust. Hatta.

Luar biasa…

Saya jadi tersadar, dan jadi tau mengapa sulit sekali menemukan buku-buku tentang retorika dan gaya bicara dalam kitab-kitab klasik ulama terdahulu. Justru yang paling banyak adalah kisah tahajjud para ulama tersebut. Ternyatalah inilah rahasianya. Setiap baca biografi ulama-ulama yang hebat, semacam Imam Syafii, Imam Malik bin Anas, Imam An-Nawawi, Imam Abu Hanifah, Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, selalu dikisahkan mereka adalah para orator yang hebat, pejuang tangguh, sekaligus ahli tahajjud yang tidak tidur ketika malam kecuali sedikit.

Kekuatan hati lebih kuat berpengaruh dari kepandaian lisan. Kedalaman Materi lebih menyentuh daripada keindahan retorika. Maka dalam keterampilan berbicara, kita lebih fokus kepada apa yang menjadi dasarnya dengan tidak lupa belajar hal hal pendukungnya.

 

Belajar dari Ust. Sufyan Nur Marbu

sheikh-muhammad-nuruddin-al-banjari

Salah satu keberkahan menulis buku 10 Jurus Hafal Al-Qur’an adalah saya bisa bertemu dengan banyak murid Syekh Sufyan Nur Marbu.

Banyak yang menghubungi saya via sms, wa, ataupun fb. Semuanya memberikan apresiasi sekaligus kritikan.

Apresiasi karena menulis kisah menghafal Syekh Sufyan yang sangat menginspirasi namun belum diketahui oleh banyak orang, disertai kritikan karena foto yang ditaruh di buku tersebut bukanlah foto Ust. Sufyan tapi foto kakak beliau, Ust. Nuruddin Marbu. Secara sekilas tampak mirip, tapi bagi yang sudah belajar lama kepada kedua allamah tersebut, wajah kedua beliau tampak berbeda.

Setelah saya konfirmasi ke penerbit, setelah disearching maka foto itulah yang muncul. Apalagi memang memang Ust. Sufyan berpendapat tentang ketidakbolehan foto. Maka ketika beliau mengisi Daurah Tahfiz di PPTQ Ibnu Abbas, salah seorang murid beliau mengingatkan untuk tidak memfoto beliau saat mengisi ceramah.

Salah satu satu hal yang mengesankan dari beliau adalah saat beliau berkunjung saat ke pondok Ibnu Abbas. Melihat beliau dari dekat saya langsung mengetahui bila ternyata beliau memiliki Sifat Ar Rifqu wal Anaah; kelembutan dan ketenangan. Dua sifat yang dicintai oleh Allah dan RasulNya.

Waktu itu lagi hujan deras dan jalanan becek. Keluar dari mobil, saya dan beberapa kawan lainnya segera mengambil payung dan berlari menuju mesjid menghindari hujan yang deras, Ustadz Sufyan berjalan dengan tenang dan hati-hati. Sebelum masuk mesjid beliau mampir sebentar ke tempat wudhu untuk mencuci kaki. Sementara kami sudah menunggu beliau di pelataran mesjid.

Dari para guru, kita memang lebih dahulu belajar dari adab mereka sebelum belajar dari ilmu mereka. Maka perbanyaklah bertemu dengan orang-orang shaleh.

Sosok Istri yang Hebat

suami-istri1

Dalam kisah Hanzhalah yang sangat heroik karena beliau menjadi Ghasilul Malaikah (sahabat yang dimandikan malaikat), sesungguhnya kemuliaan tidak hanya milik Hanzhalah, tapi juga milik istrinya.

Kalau ketika itu istrinya bermanja manja ingin menikmati masa pengantin baru, apalagi sampai nangis nangis gak rela suaminya turun ke medan juang, dan akhirnya suaminya tidak tega meninggalkan istrinya, pastilah cerita sejarah akan lain dan Hanzhalah tidak akan mendapatkan kemuliaan dan nama baik yang abadi seperti saat ini.

Maka…
Wahai para istri, pengorbananmu menjadi penentu kesuksesan perjuangan suami, dan tentulah kemuliaan itu akan menjadi milikmu jua.. 

Menjaga Islam Yang Tercinta

Zemanta Related Posts Thumbnail

Benar bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yg dapat menyamai ketinggiannya…
Betul sekali bahwa jika kebenaran datang maka kebatilan itu akan musnah

Yg jadi pertanyaan adalah: apakah kita termasuk orang yg menjaga ketinggian itu, menjadi pembawa kebenaran yg memusnahkan kebatilan, atau tidak?

Kondisi Syiah di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.
Berbondong bondong orang syiah menguasai parlemen. Ribuan imigran syiah afghanistan berada di balikpapan, riau, dan sulsel.

Kini mereka sudah hampir berada di fase kelima dr rencana panjang mereka:
1. Fase Pengenalan
2. Fase Mediasi dan Sosialisasi
3. Fase Dakwah
4. Fase Pengkaderan
5. Fase Revolusi

Irak, Suriah, dan Lebanon menjadi bukti nyata tentang apa yg bakal terjadi jika Syiah berkuasa. Penyembelihan dan pembantaian terjadi dimana mana.

Dalam lima tahun pemerintahan Jokowi, seperti kata istri Jalaluddin Rahmat, syiah akan menuntaskan agendanya.

Tidak perlu berharap banyak kepada pemerintah. Kita sebagai muslim punya kewajiban utk berjuang.

Apa yg bisa kita lakukan?
1. Kuatkan pengetahuan dan pemahaman kita tentang ajaran sesat ini. Baca referensi tentang Syiah. Salah satunya buku yg diterbitkan oleh Insist ini

2. Kenali dan waspadai gerakan syiah di sekitar kita

3. Lindungi keluarga, sahabat, dan murid murid yg kita sayangi dr pengaruh syiah dengan memberikan pemahaman yg baik kepada mereka.

Semoga Allah menilai sebaris kalimat ini sebagai bentuk ibadah kepadaNya.

1 2 3 24