Kebiasaan Penguni Surga

blue-sky

Pertama-tama saya ingin bertanya kepadamu sahabat…

Maukah bapak dan ibu sekali menjadi penduduk surga?

Bila mau, maka kita mari kita lakukan sekarang juga. Tidak perlu menunda-nunda dan menunggu mati terlebih dahulu

Caranya…..?

Rasulullah mengatakan bahwa penduduk surga itu diilhamkan kepadanya untuk berzikir seperti kita bernafas. Sehingga mereka selalu dalam kondisi berzikir dan tidak terganggu serta tidak merasa terganggu oleh aktifitas apapun.

Orang yang bisa membiasakan kondisi seperti itu di dunia ini berarti dia sudah duluan masuk surga sebelum meninggal. Paling kurang surga dunia. Orang yang sanggup begitu pasti hidupnya bahagia, aman, nyaman dan tentram.

***

Di mesjid Rasul, ada beberapa orang sahabat muhajirin yang sdah tua duduk berzikir , bertasbih, tahmid, dan membaca Al-Qur’an.

Tiba-tiba Rasulullah Saw. masuk mesjid dan langsung menyapa mereka,

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya beliau.

“Kami sedang mendengarkan salah seorang diantara membaca Al-Qur’an “ jawab mereka

Rasululllah menjawabnya dengan ucapan tahmid, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diantara umatku ada mereka yang aku diminta untuk menyabarkan diriku bersama mereka”

Ini seperti yang Allah sebutkan dalam Surah Al-Kahf ayat 28,

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Rasulullah duduk diantara mereka. Beliau bersabda, “Berbahagialah wahai para muhajirin dan anshar dengan cahaya yang sempurna. Kalian akan masuk surga setengah hari atau 500 tahun sebelum orang-rang kaya.

Rasulullah bersabda, “Dudukku bersama suatu kaum yang berzikir kepada Allah Swt. semenjak shalat subuh hingga terbitnya matahari lebih saya sukai dari pada saya memerdekakan empat orang budak keturunan Ismail.

Dan duduknya  saya bersama suatu kaum yang berzikir kepada Allah Swt. semenjak shalat ashar hingga menjelang terbenam matahari lebih saya sukai dari pada memerdekakan empat budak”.

***

Sungguh hati dan akal kita tidak pernah berhenti sedetikpun bekerja. Akal pikiran dan perasaan terus mengembara dan menjelajah, berpikir dan merasa tentang berbagai hal yang pernah ia lihat, ia dengar, atau ia rasakan. Bila tidak disibukkan dengan kebaikan, kedua kendali kehidupan ini akan disibukkan dengan keburukan.

Mengingat Allah adalah cara paling baik untuk menjernihkan pikiran dan mendamaikan perasaan.

Berzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak.

Berzikir kepada Allah merupakan upaya penyelamatan jiwa dari berbagi kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Zikir adalah jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memberikan kita kekuatan untuk dapat selalu mengingat Allah Swt kapan dan dimana saja. Amin

 

@kakmuma

Rajutan Makna Dari Buku Dahsyatnya 7Kalimat Thayyibah

 

Kembali Menghafal Al-Qur’an

Penuturan dari Yulan Bangga di FB Pribadinya tentang semangatnya yang tergugah untuk menghafal Al-Qur’an

 

Karena buku “10 Jurus Dahsyat Hafal Al-Quran” ini saya (kembali) termotivasi…

Pertama kali menulis hal ini saya tidak bermaksud ujub atau bahkan riya’. Saya hanya ingin berbagi kebaikan karena buku ini insya Allah sangat bermanfaat bagi siapa saja yang mau membacanya.

Penghafal Al-Qur’an dan mengamalkan kandungannya adalah hamba pilihan diantara miliaran umat manusia. Di hari kiamat, ia akan di pakaikan mahkota dari cahaya yang terang benderang, laksana matahari. Kedua orang tuanya dipakaikan mahkota kemuliaan yang tak dapat ditukar dengan dunia dan segala isinya. Bahkan ia dapat memberikan syafaat bagi keluarganya. Dan ini adalah niat saya kembali menghafal.

Alhamdulillah, beberapa hari ini, ditengah kesibukan mengurus Izzah, saya dan suami setiap malam setelah selesai shalat Isya rutin mengambil waktu sejam untuk menghafal. Kami juga bergantian menjadi guru atau murid. Ba’da Subuh saya bertugas untuk menyimak hafalan Abanya Izzah, sorenya ba’da Ashar giliran saya yang Muraaja’ah. Kami menggunakan 1 jam untuk menghafal dan satu jam lagi untuk menyetor hafalan. Bagi kami berdua, ada lebih kurang 2 jam setiap hari kami maksimalkan untuk berinteraksi dgn Al-Qur’an.

Sekedar ingin berbagi cerita, dulu ketika “mondok” saya pernah menghafal Al-Qur’an. Juz 30, 29 dan sebagian juz 28. Bahkan saya sudah selesai menghafal juz 1 dan 2 dan masuk juz 3, karena saat msh “nyantri” dulu saya bersama beberapa teman kelas saya (Fauzan Suleman, Miftahuljannah Utina, Jusmi Zainuddin, dll) pernah bercita-cita melanjutkan studi di Kampus Al-Azhar Kairo Mesir, untuk kuliah disana saya harus punya modal hafalan minimal 6 juz, tapi karena satu dan lain hal keinginan kuat kuliah di “Negeri Para Nabi” itu tak kesampaian. Pada akhirnya saya kuliah di kampus di Kota Gorontalo, saat itu kondisinya tidak sama seperti di pondok pesantren, saya menyetop hafalan karena tidak termotivasi lagi, ditambah banyaknya kegiatan intra dan ekstra kampus, serta malas mencari guru. Akibatnya ada banyak ayat yang saya sudah lupa. Astaghfirullaahal-adziim

15 hari yang lalu saya dapatkan buku ini, buku yang ditulis oleh Kakak Senior sekaligus Guru saya, butuh 1 hari menamatkannya. Saya baca dengan seksama, hati saya kembali tergugah. Malamnya setelah Isya saya memutuskan untuk menghafal kembali surah-surah Al-Qur’an yang saya anggap mudah. Alhamdulillah sampai dengan hari ini, juz 30 dan 29 sudah selesai saya hafal. Hanya tinggal butuh “ujian” untuk mengetahui lancar atau tidak lancarnya hafalan saya. Kekurangan saya dan suami saya saat ini adalah kami tidak punya guru atau kontak person para penghafal yang sudah mahir yang terdekat untuk menyetor hafalan.

Dulu saya menghafal dengan berbagai model mushaf, tapi setelah membaca petunjuk dan teori dalam buku ini, saya hanya menggunakan 1 mushaf Al-Qur’an saja. Saya terbantu dengan Kitab Terjemahan Al-Qur’an perkata type Hijaz peninggalan Almarhum Ayah Mertua saya, ditambah dengan Buku Tajwid lengkap (40 halaman) tulisan tangan yang ditulis Almarhum beberapa minggu sebelum wafat (Semoga Allah Merahmati Beliau. Amiin). Kedua kitab ini sangat membantu dan memudahkan saya menghafal Al-Qur’an.

Setelah baca buku 10 Jurus Dahsyat Hafal Al-Qur’an ini saya menargetkan khatam menghafal 30 juz dalam jangka waktu 3 tahun (10 juz/tahun). Insya Allah
Segala sesuatu yang dilakukan dengan niat ikhlas dan bersungguh-sungguh pasti hasilnya memuaskan.
Orang lain bisa, kenapa kita tidak??? Kata suami saya yang kader HMI ini; Yakin Usaha Sampai, Nou! grin emotikon

Semoga Allah senantiasa memudahkan dan memberi kekuatan kepada kita semua dalam menghafal Al-Qur’an. Amiiin

Engkau Malas Ibadah? Mungkin Inilah Sebabnya

10025

Salah satu akibat dari dosa adalah kurangnya kepekaan hati kita kepada dosa.
Ahmad bin Abil Hawari pernah menuturkan kepada Abu Sulaiman Ad-Darani, “Tadi malam aku tidak mengerjakan Shalat Witir, aku tidak mengerjakan dua rakaat sunnah fajar. Aku juga tidak melaksanakan Shalat Subuh berjamaah”

Abu Sulaiman Ad-Darani menyatakan, “Itu terjadi karena perbuatanmu sendiri. Allah tidak berbuat zhalim kepada hamba-Nya. Engkau telah tertimpa syahwat”
“Tidaklah seseorang tertinggal melaksanakan Shalat Berjamaah, kecuali karena dosa-dosa yang ia lakukan”
Betapa banyak kemaksiatan yang menghalangi seseorang untuk mengerjakan qiyamullail. Betapa banyak pandangan haram yang menghalagi seseorang untuk tilawah Al-Qur’an. Betapa banyak perkataan haram, yang menghalangi seseorang dari nikmatnya bermunajat.
Terkadang seorang hamba menyantap makanan haram atau melakukan dosa sekali saja, namun akibat dia terhalang dari qiyamullail selama setahun penuh.

Sungguh luar biasa generasi ulama terdahulu. Karena sedikit berbuat dosa, maka mereka mengetahui darimana setan masuk ke dalam diri mereka. Sementara itu, dosa kita terlalu banyak sehingga setan masuk dari semua pintu-pintu dosa.

Seperti segelas air bening dan segelas kopi yang pekat. Sebutir pasir yang masuk, akan sangat kelihataan di air yang jernih. Namun pada kopi yang pekat, segenggam tanah, bahkan paku, tidak akan kelihatan dari luar saking pekat dan hitamnya kopi itu.
Barangsiapa jernih hatinya, niscaya Allah memberinya kejernihan. Siapa yang kotor hatinya, Allah pun akan memberinya kekotoran. Barangsiapa berbuat baik pada malam hari, Allah akan menjaganya pada siangharinya. Begitu pula barangsiapa yang berbuat baik pada siang harinya (dengan meninggalkan dosa), niscaya Allah menjaganya pada malam harinya (dengan membangunkannya untuk qiyamulllail).

 

#Rajutan Makna Dari Buku “Dahsyatnya 7 Kalimat Thayyibah”

Panggilan Cinta Dari Ilahi

Seminar Hall

Allahu Akbar Allahu Akbar….

Asyhadu An La Ilaha illallah

Asyhadu An La Ilaha illallah

Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah

Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah

Hayya ‘Alashhalah

Hayya ‘Alashhalah

Hayya ‘Alal Falah

Hayya ‘Alal Falah

Allahu Akbar Allahu Akbar

La Ilaha illallah

***

Setiap hari kita mendengarkan lantunan suara azan. Suara itu membelah kesunyian dan menggema dari berbagai penjuru. Bersahut-sahutan dari satu ke mesjid ke mesjid yang lain. Alunan merdu lantunan azan menjadi pertanda waktu shalat telah tiba. Itulah saatnya seorang hamba mengistirahatkan dirinya dari kepenatan duniawi, hiruk pikuk pekerjaan yang tidak berujung, dan kesibukan-kesibukan lain yang menuntut banyak tenaga, waktu dan pikiran.

Panggilan itu bukan panggilan biasa. Itu adalah undangan dari Allah Swt, Sang Pemilik alam semesta. Susunan kalimatnya mengandung makna yang sangat mendalam dan seharusnya mengingatkan seseorang tentang prinsip kehidupannya. Panggilan itu bukan sekedar untaian kata yang dikuamndangkan dari mesjid-mesjid tanpa makna arti. Mungkin karena terlalu sering mendengar, maka setiap kali suara azan itu terdengar ucapan yang terdengar adalah “Oh sudah azan..” lalu berhenti sampai disitu.

Sungguh itu adalah panggilan cinta dari Ilahi kepada hamba-hambanya untuk sejenak menghadap-Nya. Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap yang Maha Kuasa dan risalah Nabi Muhammad saw.

Secara pengetahuan, barangkali setiap kita tahu bahwa azan itu adalah panggilan untuk shalat. Namun hati ini tidak bisa dibohongi kadang kadang dalam hati terbetik perasaan jengkel dan kesal saat azan berkumandang sementara ada pekerjaan yang belum selesai. Kekesalan itu bukan karena suara azan, tapi kesal kepada diri sendiri kenapa pekerjaan belum diselesaikan saat waktu shalat sudah masuk.

Seharusnya rentang waktu shalat menjadi waktu kerja produktif. Batasan waktu kerja itu adalah ketika azan berkumandang. Kumandang azan adalah saat untuk berhenti dari berbagai kesibukan dan bersiap menghadap ilahi rabbi. Bukannya menjadikan azan sebagai alasan untuk berhenti dari pekerjaan dan memperbanyak istirahat, namun berusaha mengefektifkan waktu dengan baik agar ketika waktu shalat tiba seluruh tugas itu sudah bisa diselesaikan seluruhnya atau sebagian besarnya.

Jadi dalam hal ini, gema suara azan bisa menjadi pengontrol kegiatan dan mendongkrak produktifitas. Ada hasil yang harus dikejar sebelum waktu shalat berikutnya datang. Ada pekerjaan yang mesti diselesaikan dan target yang sudah tercapai ketika azan sudah berkumandang.

Ucapan alhamdulillah keluar dengan puas saat terdengar suara Muazzin dari mikrofon mesjid. Akhirnya pekerjaan ini selesai dan tidak mengganggu pelaksanaan waktu shalat.

Kalau pun ada pekerjaan belum selesai, maka istirahatlah terlebih dahulu. Penuhi panggilan ilahi untuk menghadap-Nya, sebab itulah panggilan kesuksesan yang sesungguhnya…

***

Shalat adalah cara sukses dunia akhirat. Di sanalah seorang hamba mendapatkan kembali ketenangan jiwanya, semangat hidupnya, keyakinannya, dan kekuatan spiritualnya.

Kalau pun pekerjaan belum selesai,

utamakanlah menyambut seruan ilahi. Sebab ia lebih mulia dari apapun juga.

Imam Hasan Al-Banna pernah berpesan:

قُمْ إِلَى الصَّلاَةِ مَتَى سَمِعْتَ النِّدَاءَ مَهْمَا تَكُنِ الظُّرُوْفُ

Berdirilah melaksanakan shalat kapan engkau mendengar suara azan dalam keadaan bagaimanapun

 

====

@kakmuma

Rajutan Makna Dari buku NIkmatnya Shalat Khusyu

Katakan La ilaaha illllah; Engkau Pasti Beruntung…!

 

La ilaaha illallah
Saudarkau, apa yang Engkau rasakan ketika mengucapkan kalimat itu? Apa yang terpikirkan olehmu saat mendengarkan kata yang agung itu?
La ilaaha illallah
Sungguh inilah untaian kata paling agung, ucapan terbaik sejak zaman Nabi Adam As. sampai akhir zaman, bahkan puluhan ribu tahun sebelum itu, kalimat ini telah mengkristal, menjadi sebuah pengakuan yang pasti, bahwa tidak ada Ilah selain Allah Swt.

Di balik kalimat ini terkandung makna yang sangat dalam. Yang mampu mengubah pribadi Bilal bin Rabah dari budak menjadi seorang pemimpin. Mengubah Khalid bin Walid dari seorang preman jahiliyah menjadi salah seorang panglima perang terbesar dalam sejarah. Mengubah Mush’ab bin Zubair dari seorang pemuda yang manja dan kaya raya, menjadi seorang yang tabah dalam perjuangan. Mengubah Amr bin Ash dari seorang pemuda Quraisy yang licik dan ahli siasat, menjadi pejuang perkasa yang membuka berbagai negeri, memimpin bala tentara pasukan, menyebarkan islam sampai ke penjuru dunia.

Bahkan kalimat ini mampu mengubah arah perjalanan sejarah jazirah arab, dari kaum yang tak berkebudayan menjadi masyarakat pemimpin peradaban; dari para penggembala kambing dan unta, menjadi gubernur dan para pemimpin di semananjung kawasan arab, dari masyarakat rimba yang saling menindas dan berperang, menjadi masyarakat terdidik yang berkasih sayang.

Lebih dari itu, kalimat ini mengubah wajah dunia, membentuk masyarakat yang saling berkasih sayang, berperadaban tinggi, menjunjung tinggi kesamaan dan kesetaraan,menghapuskan perbudakan, menebarkan ketenangan dan kedamaian.

***

Apa sebenarnya yang berada dalam kalimat ini, sampai Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Walid bin Mughirah, dan pemuka-pemuka Quraisy bersikeras menantang perjuangan keponakan Abu Thalib yang menjadi pemimpin mereka? Mengapa orang yang mengumandangkan kalimat ini menjadi sangat dimusuhi, disiksa, diasingkan, dibunuh, padahal mereka masih tergolong keluarga dan kerabat sendiri?

Dengan heran mereka bertanya-tanya:
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shad: 5)

Dan mengapa pula orang yang telah mengucapkan kata ini menjadi sedemikian kokoh pribadi mereka, sedemikian tegar hati mereka dalam keteguhan yang tak tergoyahkan oleh ombak ancaman yang menderu dahsyat, tak bergeming oleh hantaman topan siksa yang tak henti, tetap teguh dalam deras gempuran cobaan yang menerpa?

Mengapa Sumayyah tidak mau menyerah walau pisau belati harus membelah dadanya? Mengapa suaminya, Yasir, tetap bertahan dalam kalimat ini walaupun taruhannya adalah mati? Mengapa Ammar, walaupun melihat dengan kepalanya sendiri kematian ibu dan ayahnya, tetap saja bertahan untuk mengucapkan kalimat ini?

Mengapa orang-orang Mekah rela meninggalkan seluruh hartanya, rela berpisah dengan keluarganya, mengarungi belantara padang pasir dengan kehidupan yang menderita dan sengsara? Mengapa mereka terlalu ‘ngotot’ untuk bertahan, menantang bahaya yang pasti datang, ancaman demi ancaman, kehilangan jabatan, nama besar, status sosial yang terpandang, terpasung dari kebebasan, dan juga kematian yang mencekam…?

Sahabat..
Pasti ada yang luar biasa dengan kalimat ini. Ada makna mendalam yang terkandung di dalamnya, sehingga membuat banyak orang rela meregang nyawa, rela mengorbankan harta, meninggalkan keluarga, asal ia tetap mempertahankan kalimat yang agung ini.

La ilaaha illallah
Kalimat ini mengandung makna pengesaan kepada Allah, melepaskan diri dari belenggu dunia yang menghambat langkah. Para ulama kita berkata bahwa semakin jernih ketauhidan seseorang, semakin ia berjuang mengalahkan nafsunya, maka ia semakin dekat dengannya dalam alam rohani yang tinggi. Sebaliknya kemaksiatan dan kesyirikan membuat seseorang terjatuh dan semaki jauh dari nurani yang bersih dan bercahaya.

قُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُتُفْلِحُوْا
“Katakanlah tidak ada tuhan selain Allah, kalian pasti beruntung” (HR. Ahmad)

1 2 3 28